Aglaonema Tanaman Berdaun Indah


Aglaonema commutatum

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Alismatales
Famili : Araceae
Genus : Aglaonema

PENDAHULUAN

Aglaonema atau Sri Rejeki merupakan tanaman hias populer yang termasuk dalam famili Araceae (talas-talasan), Genus Aglaonema memiliki sekitar 30 spesies dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Keindahan tanaman Aglaonema terletak pada komposisi warna daunnya.

Habitat asli Aglaonema yaitu hutan hujan tropis, tumbuh baik pada daerah yang memiliki intensitas penyinaran rendah dan kelembaban tinggi sehingga dikelompokkan dalam tanaman indoor plant. Tanaman ini memiliki perakaran serabut dan batang tidak berkambium (berkayu). Pertulangan daun menyirip serta memiliki pembuluh pengangkut (xylem dan floem) yang tersusun secara acak.

Aglaonema merupakan tanaman tahunan (annual). Akibat permintaan yang tinggi dari konsumen, tanaman hias ini telah banyak dibudidayakan di pulau Jawa. Kini bermacam Aglaonema hibrida telah dikembangkan dengan penampilan tanaman yang sangat menarik dengan bermacam-macam warna, bentuk, dan ukuran daun sehingga jauh berbeda dari spesies alami.

SYARAT TUMBUH

Tanaman Aglaonema tumbuh baik dalam keadaan terlindung dan mendapat sinar secara tidak langsung, 30-45%.
Temperatur : 17,5 – 20o C.
Malam hari : 22,5 – 27,5o C.
Kelembaban : 50%.

CARA PERBANYAKAN

Perbanyakan Aglaonema dapat dilakukan dengan cara semai biji, pemisahan anakan (split), stek batang, dan pencangkokan. Biji Aglaonema diperoleh dari hasil perkawinan bunga jantan dan betina. Setelah terjadi pembuahan bakal buah akan berkembang menjadi buah kemudian masak yang ditandai dengan warna menjadi merah. Buah yang telah masak ini dapat diambil biji didalamnya untuk dijadikan bahan perbanyakan.

Pemisahan anakan dilakukan dengan cara mengeluarkan tanaman dari pot dan membersihkan akarnya dari media sehingga terlihat batangnya. Lakukan pemisahan anakan dengan memotong batang yang menghubungkan induk dan anakan menggunakan pisau tajam. Oleskan luka potongan dengan bubuk fungisida kemudian tanam dalam media yang baru.

Stek batang dilakukan dengan cara memotong batang tanaman kemudian menanamnya (menancapkannya) ke dalam media. Agar cara perbanyakan ini berhasil biasanya diberikan perlakuan pembungkusan plastik dengan maksud bahan stek tidak mengalami kekeringan.

Pencangkokan dilakukan dengan cara menyayat batang tanaman sebagian atau membuang batang sebagian kecil kemudian dibungkus dengan media tanam. Cara ini bertujuan menghambat suplai nutrisi dari media sehingga tanaman membentuk akar baru pada media cangkok untuk memenuhi kekurangannya. Akar biasanya tumbuh di sekitar sayatan di dalam media cangkok.

MEDIA TANAM

Media tanam yang dipergunakan sangat beragam diantaranya media dengan komposisi 1 bagian tanah, 1 bagian kompos dan 1 bagian pecahan batu. Media lainnyayang sering dipakai yaitu 1 bagian serbuk pakis, 1 bagian kokopit dan 1 bagian andam. Namun penggunaan serbuk pakis kini perlu dihindari karena dapat merusak lingkungan tempatnya tumbuh.

PEMELIHARAAN

Penyiraman tanaman aglaonema dilakukan 1-2 kali sehari. Frekuensi penyiraman yang baik tergantung dari kelembapan media tanam. Media tanam yang terlalu lembab akibat penyiraman berlebih dapat mengakibatkan penyakit busuk.

Pemupukan Aglaonema dapat dilakukan dengan penaburan, siram atau semprot. Pemupukan dengan cara menabur yaitu menggunakan NPK dengan komposisi Nitrogen (N) yang tinggi sebanyak 1 gram per kg media dan dilakukan pengulangan pemupukan 3 bulan sekali. Selain NPK dapat digunakan pupuk slow release seperti Dekastar dengan pengulangan pemupukan 6 bulan sekali.

Pemupukan dengan disiram dan semprot menggunakan pupuk lengkap seperti Growmore dan Hyponex. Selain itu dapat ditambahkan unsur mikro (Atonik) dan vitanin B1. Seluruh nutrisi ini dapat diaplikasikan secara bersamaan atau terpisah. Pemupukan ini dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan konsentrasi 1 g atau 1 ml per 1 liter air.

PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU

a. Hama
Gejala serangan hama dapat dikenali dengan adanya seranga, ulat atau bekas gigitan pada daun dan batang. Serangan hama dari kelompok serangga dapat diatasi dengan insektisida, keong dengan moluskisida, tungau dengan akarisida.

b. Penyakit
Gejala serangan penyakit yaitu busuk, kering atau terdapat tanda seperti kapas. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dengan ciri-ciri basah, berlendir dan mengeluarkan bau busuk diatasi dengan bakterisida. Penyakit akibat serangan cendawan dengan ciri daun kering atau tanda seperti tepung dan kapas (misellium dan spora cendawan) diatasi dengan fungisida. Sedangkan penyakit akibat virus dengan ciri perubahan bentuk seperti tumbuh kerdil, daun keriting, terpilin, dan kristata hanya dapat diatasi secara kultur jaringan.

Download artikel ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: